Tuesday, October 28, 2014

Pemahaman & Bangga Terhadap Bahasa Indonesia - Tugas Softskill

Nama : Hasan Wijaya Silalahi
Kelas : 3KB01
NPM : 23112350

Pemahaman Dan Bangga Terhadap Bahasa Indonesia


Ada yang tau pengertian dari "Bahasa" ? Beberapa orang mungkin akan menjawab bahwa bahasa itu adalah Bahasa Indonesia. pernyataan tersebut memang benar, tetapi ada pengertian yang lebih spesifiknya. Bahasa adalah kapasitas khusus yang ada pada  manusia untuk memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, dan sebuah bahasa adalah contoh spesifik dari sistem tersebut. Itu merupakan pengertian dari bahasa, namun bagaimana dengan pengertian Bahasa Indonesia ? apakah alat komunikasi khusus rakyat indonesia ? :D lol . bukan.!

Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang dijadikan sebagai Bahasa Resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi.

Berbahasa Indonesia yang baik adalah menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai konteks (pembicaraan atau penulisan). Berbahasa Indonesia yang benar adalah menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah (tata bahasa) bahasa Indonesia.

Apabila orang bertanya kepada saya "Apakah kamu bangga berbahasa indonesia" Pasti Ya ! 100% atau kalau perlu 1000%. Tetapi, untuk berbahasa indonesia yang baik dan benar itu tergolong sangat susah, ada banyak hal yang memperngaruhi hal tersebut, antara lain : pergaulan, lingkungan,dll.

Sejak saya SD - SMA saaya selalu belajar Bahasa Indonesia, tetapi pada saat kuliah pun saya mendapat mata kuliah bahasa indonesia lagi, apakah ada perbedaan materi ? Menurut saya, ternyata dosen umumnya lagi-lagi mengajarkan materi kuliah Bahasa Indonesia sama dengan yang telah diberikan para guru Bahasa Indonesia di SD, Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan SMA. Para dosen kembali mengajarkan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan, dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Setelah 12 tahun belajar Bahasa Indonesia, apakah saya sudah mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara tertulis maupun terlisan? Dan lagi-lagi jawaban nya Tidak. :D Tidak mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara terlisan maupun (apalagi) secara tertulis.

Sebenar nya penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar sangat bermanfaat bagi mahasiswa, seperti : jawaban ujian akhir semester, Laporan Tugas Akhir (LTA) mahasiswa program D3, skripsi mahasiswa S1, dan tesis mahasiswa S2.

Saya juga sangat bangga sebagai bangsa Indonesia yang menggunakan Bahasa Indonesia, karena, Bahasa Indonesia mulai dipelajari oleh bangsa lain (Australia). Alasan mereka mempelajari bahasa Indonesia karena mereka tertarik dengan budaya bangsa kita. itu adalah suatu kebanggan sendiri. Mungkin pada suatu saat nanti, Bangsa Indonesia bisa menjadi Bahasa Internasional. banyak sekali keuntungan apabila Bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional, antara lain, Orang-orang dari seluruh dunia mulai datang ke Indonesia, Indonesia mulai terkenal, Bahasa indonesia ada dimana-mana, banyak artis luar negri yang menggunakan bahasa indonesia, Budaya Indonesia menjadi terkenal, dan terakhir kita sebagai orang indonesia tidak akan TAKUT untuk ke luar negri. :D

Jadi, masihkah kita tidak bangga dengan bahasa Indonesia ? Tentunya tidak, kita harus menjaga, merawat serta melestarikan bahasa Indonesia supaya tetap ada dan terus dipergunakan anak cucu kita dan semoga dapat juga menjadi bahasa internasional.

Analisis Artikel Online - Tugas SoftSkill

Nama : Hasan Wijaya Silalahi
Kelas : 3KB01
NPM : 23112350


Kerja Keras atau Kerja Cerdas?


Ada yang mengatakan bahwa untuk sukses, kita memerlukan kerja keras alias work hard. Tapi, dewasa ini orang-orang mulai memunculkan gagasan kerja cerdas atau work smart. Di Amerika Serikat, prinsip kerja keras telah mengakar di Negeri Paman Sam itu selama lebih dari 3 abad. Dahulu, ketika sektor industry dianggap paling menjanjikan dan memasuki masa keemasannya, semua orang berlomba-lomba untuk bekerja keras. Kini, ketika zaman sudah berubah, bisnis beralih dan memusatkan konsentrasinya pada sector pelayanan. Berkembanganya era digital dan teknologi informasi membuat para pekerja dan pebisnis mulai berpikir bahwa kerja cerdas akan memberikan hasil yang lebih baik.


Kerja keras mengacu pada proses bekerja yang tekun, terus-menerus, sabar, dan bersedia melakukan banyak hal untuk mencapai kesuksesan. Contohnya sangat banyak di sekitar kita, bagaimana dulu para pengusaha hampir bangkrut saat krisis moneter tahun 1997. Tapi, dengan kerja kerasnya, mereka tetap bertahan membangun kembali usahanya. Begitu juga dengan korban tsunami di Aceh dan tanah longsor di Nepal yang membuat orang-orang kaya kehilangan seluruh rumah dan harta benda lainnya. Mereka meniti kembali usahanya dari awal, kembali dari nol. Hanya orang-orang yang bekerja keras saja yang bisa bertahan menghadapi situasi sulit seperti itu.

Di sisi lain, kerja cerdas banyak digaungkan oleh para eksekutif dan pebisnis muda masa kini. Menurut mereka, ada banyak sekali peluang di sekitar kita. Kita harus cerdas dan berpikir taktis untuk mampu menangkap dan memanfaatkan peluang yang ada. Banyaknya pengangguran saat ini tidak lain karena ketidaktahuan dan kemalasan berpikir. Kalau ada orang yang sudah bekerja selama belasan bahkan puluhan tahun tapi tidak bisa kaya, itu juga karena orang-orang itu tidak paham bagaimana bekerja dengan cerdas. Bekerja cerdas berarti mengurangi waktu kerja, tapi meningkatkan produktivitas. Dengan demikian, seseorang memiliki waktu yang lebih banyak.
Bekerja keras sebenarnya merupakan mental dasar yang harus dimiliki oleh semua orang. Orang yang bekerja keras akan bisa menghadapi situasi sulit sekalipun. Kerja keras adalah dasar yang harus dimiliki untuk membangun usaha dan karir. Sayangnya, dalam beberapa bidang keahlian kerja keras tidaklah cukup. Bekerja keras tanpa kerja cerdas hanya akan membuang waktu dan energi, tanpa memberikan banyak hasil. Saat itulah dibutuhkan adanya kerja keras. Seseorang harus memutar otaknya agar ia bisa menghasilkan lebih banyak dengan modal yang sama.

Mengapa tidak mengaplikasikan keduanya sekaligus?


Bekerja cerdas memang sangat diperlukan, tapi ini hanyalah setengah usaha untuk mencapai kesuksesan. Tidak ada satupun pengusaha sukses atau pemilik jabatan eksekutif yang tidak bekerja keras. Saat ini memang banyak sekali pakar dan pengusaha yang menganjurkan untuk lebih bekerja cerdas. Pengusaha seperti Donald Trump, Bill Gates dan Mark Zuckenberg memang hanya akan mengatakan bahwa kesuksesannya dibangun dengan kecerdasan, kecerdikan, ketelitian, kemampuan mengambil resiko, dan otak brilian. Padahal di balik kesuksesannya, mereka pernah mengalami jatuh-bangun. Mereka pernah hanya tidur selama 3 jam di tempat yang tidak nyaman. Mereka pernah bangun dini hari untuk mempersiapkan pekerjaannya, ketika orang lain masih enak tidur. Para pebisnis sukses ini tahu betul, bahwa keberhasilan membutuhkan kerja keras. Bahkan gagasan kerja keras ini pun masih mereka lakukan sampai sekarang. Faktanya, belum ada satu pun pengusaha kaya raya yang langsung puas menikmati kerja kerasnya di usia tua. Meskipun sudah tua, mereka tidak diam saja di rumah atau jalan-jalan dan berbelanja.

Alexis Ohanian menyatakan bahwa untuk membangun sebuah bisnis, seseorang harus bekerja keras dan kerja cerdas sekaligus. Di awal, seseorang wajib bekerja keras dan dan menjalani hidup penuh tekanan. Harus menghemat untuk bisa mengumpulkan modal dan mengembangkan bisnis lebih luas lagi. Untuk mengembangkan bisnis ini, kita juga harus cerdas melihat kebutuhan pasar. Kita tidak hanya memasarkan, tetapi memenuhi kebutuhan masyarakat dan menarik perhatian mereka dengan apa yang kita miliki.

Keberhasilan tidak hanya dibangun dengan kerja cerdas. Setidaknya, tidak sesederhana itu. Menurut Michael Moroney, orang sukses memang bekerja dengan cerdas, tetapi juga sekaligus bekerja keras. Keduanya harus dikombinasikan. Tidak mungkin bisa sukses hanya dengan salah satunya.


SUMBER

Dewasa ini : zaman sekarang
Sektor : bidang atau kawasan
Krisis moneter : krisis keuangan
Meniti : melanjutkan
Situasi : keadaan
Digaungkan : dikumandangkan